Kisah Siti Masyitoh direbus bersama anak anaknya pada zaman raja firaun, #kacamataislam

 




Assalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Para sahabat, kembali lagi dengan kami di Channel Kacamata Islam. Kali ini kami akan membagikan kisah tentang seorang muslimah yang bernama Siti Masyitoh, wanita mulia yang makamnya harum semerbak karena memegang teguh kebenaran dan keimanannya kepada Allah SWT. Kisah yang sangat memberikan inspirasi bagi kehidupan, bagaimana keteguhan dan keyakinannya menjadikan ia wanita yang mulia disisi Allah SWT. Wanita yang hidup pada zaman Fir’aun dan sekaligus menjadi pembantu untuk mengurus anak-anak Fir’aun.

 

Sebelum kita membahasnya lebih lanjut, mohon bantuannya untuk like dan subscribe channel ini agar kami dapat terus memberikan informasi bermanfaat. Jangan lupa juga untuk aktifkan tanda lonceng untuk mendapatkan notifikasi video terbaru dari kami.

 

Fir’aun, adalah si raja kejam yang menganggap dirinya sebagai Tuhan. Namun ternyata, disekitar Fir’aun ada beberapa orang-orang terdekat yang diam-diam beriman kepada Allah SWT dan Nabi Musa AS. Mereka mengikuti tuntunan kitab Taurat, kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa AS pada kira-kira abad ke 12 sebelum Masehi.

 

Orang-orang terdekat itu adalah Siti Aisyiah, yaitu istri dari Fir’aun sendiri, Siti Masyitoh, yaitu orang yang mengurus anak-anak Fir’aun, dan seorang lagi bernama Hazaqil. Dia adalah pembuat peti, tempat Musa balita ditaruh untuk kemudian dihanyutkan ke sungai.

 

Di istana, Hazaqil yang menjadi orang kepercayaan Fir’aun menikah dengan Siti Masyitoh. Suatu hari terjadi perdebatan sengit antara dirinya dengan Fir’aun. Firaun menjatuhkan hukuman mati kepada ahli sihir yang menyatakan beriman kepada Nabi Musa AS. Keputusan tersebut ditentang keras oleh Hazaqil. Sikap Hazaqil membuat Fir’aun curiga. Atas sikap Hazaqil tersebut, Firaun mengganjarnya dengan hukuman mati pula. Hal itu tidak membuat Hazaqill takut. Dia tetap yakin bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT yang harus diimaninya.

 

Suami Siti Masyitoh ini ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tangannya yang terikat di pohon kurma, dan tubuhnya dipenuhi oleh tusukan anak panah. Sungguh keadaan yang sangat mengenaskan. Masyitoh sangat sedih melihat kondisi suaminya yang kini sudah tidak bernyawa. Namun ia bersabar dan berserah diri kepada Allah SWT. Ia pun berkeluh kesah kepada istri dari Fir’aun, yaitu Siti Aisyiah.

 

Aisyiah pun memberikan nasihat agar Masyitoh dan anak-anaknya tetap sabar. Diakhir nasihatnya, Aisyiah mengatakan bahwa dia juga beriman kepada Allah SWT dan menyembunyikannya dari suaminya.

 

Sepeninggal suaminya, Masyitoh tetap menjalankan tugasnya sebagai perias putri Fir’aun. Namun ada kejadian sepele yang berdampak sangat besar. Saat Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir tersebut terlepas dari genggamannya dan terjatuh. Ketika mengambil lagi sisir tersebut, bibirnya reflek mengucapkan kata “Bismillah”.

Ucapan itu membuat anak Fir’aun terkejut lalu bertanya, “Ayahku?”
Masyitoh pun menjawab, “Bukan, Dia adalah Rabbku, juga Rabb Ayahmu, yaitu Allah. Karena tiada Tuhan selain Allah”
Jawaban Masyitoh membuat anak Fir’aun tersinggung dan mengancam akan melaporkan keyakinan Masyitoh tersebut kepada ayahnya, Fir’aun. Masyitoh tidak takut, karena dia yakin, Allah adalah Tuhan yang sebenarnya, bukan Fir’aun.

 

Laporan dari anaknya membuat Fir’aun murka. Fir’aun pun memerintahkan pengawalnya untuk memanggil Masyitoh kehadapannya. Masyitoh datang dengan keadaan tenang. Tidak ada secuilpun rasa takut dihatinya, karena dia yakin, Allah selalu menyertainya.

 

Dengan amarah yang semakin meledak, Fir’aun bertanya tentang kebenaran Masyitoh memeluk agama yang dibawa Musa, sesuai apa yang diceritakan oleh anaknya. Masyitoh pun dengan mantap membenarkan tuduhan itu. Sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Masyitoh, Fir’aun pun mengancam akan membunuh Masyitoh sekeluarga.

“Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, maka saya telah siap pula menanggung segala akibatnya.” Begitulah yang Masyitoh ucapkan tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Jawaban itu membuat Firaun semakin marah. Dia memerintahkan para pengawal menyiapkan air mendidih di dalam tembaga besar. Wadah panas itu untuk menggodok Masyitoh beserta anak-anaknya. Pemandangan itu disaksikan masyarakat luas. Sebelum dimasukkan ke air mendidih, Masyitoh diberi kesempatan sekali lagi untuk memilih; dia dan anak anaknya selamat jika mengakui Firaun sebagai tuhan. Sebaliknya, nyawanya terancam jika tidak mau mengakui ketuhanan Firaun.

 

Siti Masyitoh tetap tidak gentar terhadap ancaman Fir’aun. Ia tetap yakin Tuhan sesungguhya adalah Allah SWT, bukan Fir’aun. Pendirian Masyitoh semakin mempermalukan Fir’aun. Ia kemudian memerintahkan para pengawalnya untuk segera melempar Masyitoh bersama anak-anaknya kedalam wadah yang telah berisi air mendidih tersebut. Kemudian prajurit mengambil salah satu anak Masyitoh dan mencelupkannya ke dalam kuali yang sangat panas itu. Air mata Masyitoh pun mengalir melihat anaknya yang kepanasan di kuali. Tak lama, anaknya itu pun akhirnya mati syahid di dalam kuali. Sedangkan Fir’aun masih terus membujuk Masyitoh agar berpikir ulang. Tapi pendirian Masyitoh pun tidak tergoyahkan untuk menjaga imannya sampai mati.

 

Belum kering rasanya air mata Siti Masyitoh setelah melihat kematian anak pertamanya di dalam kuali, dia kembali dihadapkan untuk menyaksikan kejadian yang mengiris hati seorang ibu. Anak keduanya, harus meregang nyawanya juga di kuali. Fir’aun pun kembali menawarkan hal yang sama. Dalam kegalauan itu, dia merasa iba dengan anaknya yang tinggal satu yang masih disusuinya, Siti Mayitoh pun mulai memikirkan ucapan Fir’aun sambil menahan tangis. Tapi sebelum mengambil keputusan dan masih berfikir, tiba tiba anak yang digendongnya yang masih bayi mengingatkan ibunya, dan berkatalah anak Siti Masyitoh yang masih bayi itu,

“Sabarlah wahai ibuku, sesungguhnya kita dalam pihak yang benar. Wahai Ibu, masuklah! Sesungguhnya siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.”

 

Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih membuat keraguan Masyitoh hilang. Keteguhan imannya kian meningkat. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya. Sebelum masuk kedalam kuali, Siti Masyitoh memiliki satu permintaan untuk Fir’aun agar mengumpulkan tulangnya dan tulang anak-anaknya dalam satu kafan, kemudian baru dikuburkan. Fir’aun pun menyanggupi permintaan Siti Masyitoh.

 

Dengan yakin dan iklas kepada Allah, Masyitoh membaca, “Bismillahi tawakkal tu ‘alallah wallahu akbar.”

Siti Masyitoh dan bayinya terjun ke air mendidih. Ajaib, begitu air mendidih itu menggerus raga orang-orang istiqamah, terciumlah wangi yang sangat harum dari dalam kuali. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada kuali itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam kuali itu.

 

Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah Siti Masyitoh ini. Diantaranya adalah tentang keyakinannya akan janji Allah adalah benar adanya, juga tentang keteguhannya memegang keimanan walaupun dihadapkan pada bahaya yang merenggut nyawanya dan keluarganya.

 

Karunia Allah yang paling lengkap adalah kehidupan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan (Ali bin Abi Thalib).

Semoga bermanfaat.

Wabillahi taufiq wal hidayah. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

Komentar

Postingan Populer