kisah asiyah binti muzahim dan firaun (calon penghuni surga yang di siks4 firaun)#kacamataislam
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Ada 16 hari dalam setahun yang diperingati sebagai Hari Penghapusan
Kekerasan terhadap Perempuan, yakni 25 November hingga 10 Desember.
Perlindungan bagi kaum perempuan harus terus diperjuangkan.
Seorang istri sudah seharusnya dilindungi dan diayomi oleh suami.
Pasalnya, perempuan tidak boleh mengalami kekerasan karena perempuan adalah
makhluk yang mulia. Sebagai seorang istri sekaligus seorang ibu, perempuan sudah
seharusnya dilindungi dan dijaga karena kemuliaan dan kerapuhan yang ia miliki.
Bahkan Rasulullah SAW berwasiat agar para suami selalu berbuat baik kepada
istri mereka sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut, “Sebaik-baik kalian
adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik
terhadap istriku.” (HR Tirmidzi)
Namun sayangnya, Asiyah binti Muzahim tidak menerima perlakuan baik
dari suaminya, yakni, Fir’aun. Fir’aun adalah Raja yang terkenal karena
kejahatan dan kekejamannya terhadap rakyatnya. Bahkan, dia juga mengaku-ngaku
sebagai tuhan.
Suatu ketika saat Firaun ditinggal mati oleh istri pertamanya, dia
merasa kesepian. Lalu dia mengutus seorang menteri bernama Haman untuk meminang
Asiyah. Namun Asiyah menolaknya karena Firaun terkenal sebagai Raja yang ingkar
kepada Allah SWT. Sang utusan pun memberikan kabar tersebut kepada Firaun.
Firaun marah dan mengutus tentara untuk menangkap orang tua Asiyah
untuk dikurung dan disiksa. Hal itu dilakukan untuk mengancam Asiyah. Bila
Asiyah tidak mau dinikahi, maka Firaun berjanji akan membakar orang tua Asiyah
hidup-hidup dihadapannya.
Karena ancamannya itu, Asiyah pun luluh. Asiyah menerima pinangan
tersebut dengan syarat, yaitu, membebaskan orang tuanya, memberikan mereka
rumah yang indah, serta menjamin kesejahteraan kedua orang tuanya. Asiyah pun
menolak untuk tidur bersama Firaun. Bila permintaan tersebut tidak dikabulkan,
Asiyah rela mati bersama kedua orang tuanya. Firaun pun luluh dan menerima
persyaratan itu.
Sebagai istri seorang Raja, Asiyah pasti mendapatkan segala kemewahan.
Namun hal itu tidak membutakan hatinya. Asiyah tetap menjadi manusia yang
selalu beriman kepada Allah SWT. Dia pun senantiasa berdoa kepada Allah SWT
agar kehormatannya selalu dijaga. Allah pun mengabulkan doanya dengan
menciptakan jin yang selalu menjelma sebagai Siti Asiyah. Dialah iblis yang
setiap malam tidur dan melayani Firaun di atas ranjang.
Suatu ketika, Firaun didatangi oleh seorang peramal yang mengatakan
bahwa kelak Firaun akan dibunuh oleh seorang lelaki dari Bani Israel. Namun,
lelaki tersebut masih bayi.
Mendengar hal itu, Sang Firaun langsung memerintahkan bala tentaranya
untuk membunuh seluruh bayi lelaki Bani Israel sehingga menutup kemungkinan
bayi itu tumbuh dewasa dan membunuh Sang Penguasa Mesir. Bahkan, seorang ibu
Bani Israil yang sedang hamil pun ditunggui oleh tentara Firaun. Jika ia
melahirkan seorang bayi lelaki, tentara itu akan langsung membunuhnya.
Namun, Allah punya skenario yang lebih baik. Allah menyelamatkan salah
satu bayi dari ke turunan Bani Israel. Dia adalah Musa AS. Musa kecil ditemukan
Asiyah se waktu sedang mandi di sungai dekat istana. Asiyah tiba-tiba melihat
peti berisi bayi lelaki. Bayi itu diambil dan dibawanya pulang ke istana.
Asiyah pun berusaha meyakinkan Firaun agar tidak membunuh anak tersebut.
Singkat cerita, Firaun pun menyetujuinya. Bayi itu bahkan diangkat
menjadi putra Firaun Ramses II. Asiyah pun menjaga bayi tersebut dengan seluruh
cinta yang dimilikinya. Berkali-kali Asiyah menyelamatkan Musa AS dari
kemurkaan Firaun.
Asiyah berhasil membesarkan tokoh kunci dalam takdir hidup Firaun di
bawah batang hidung raja zalim itu sendiri hingga dewasa. Musa AS tumbuh
menjadi pemuda yang gagah berani. Meskipun bukan anak kandungnya, rasa cinta
Asiyah tak pernah kurang terhadap Musa AS. Dia mengkhawatirkan keadaan Musa AS
selayaknya seorang ibu kandung. Dia selalu mendoakan Musa agar bisa mendapatkan
kemenangan atas Firaun.
Setelah Nabi Musa AS tumbuh dewasa dan diangkat sebagai Nabi (utusan
Allah), para tukang sihir Firaun berhasil dikalahkannya. Setelah mengetahui
kekalahan tukang sihir itu, keimanan Asiyah semakin teguh. Asiyah semakin yakin
bahwa ada Dzat yang menciptakan dan mengatur urusan manusia. Bukan Firaun
suaminya yang mengaku mampu menghidupkan dan mematikan manusia.
Keimanan Asiyah pun akhirnya diketahui oleh Fir’aun. Setelah mengetahui
jelas keimanan istrinya, Fir’aun pun menjatuhkan hukuman dan siksa yang berat.
Kedua tangan dan kaki Asiyah diikat. Ia ditelentangkan di atas tanah yang
panas, wajahnya dihadapkan ke terik sinar matahari. Manakala para penyiksanya
kembali, Malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa.
Tak cukup sampai di situ, Fir’aun kembali memerintahkan para algojonya
menjatuhkan sebongkah batu besar ke dada Asiyah. Naudzubillah, sungguh siksa
yang amat berat dan sangat tidak manusiawi.
Ketika Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, beliau
pun berdoa kepada Allah SWT: “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di
sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan
selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim : 11)
Allah Swt pun memperlihatkan rumah yang sedang di bangun di surga yang
terbuat dari marmer berwarna mengkilat. Asiyah pun sangat berbahagia. Asiyah
semakin tak peduli dengan siksaan demi siksaan yang diberikan oleh Fir’aun.
Asiyah bahkan tersenyum gembira dalam penyiksaan yang dialaminya. Sehingga
Fir’aun pun kebingungan dan terus menyiksa Asiyah dengan tanpa ampun
sedikitpun. Asiyah sangat bergembira, lalu ruhnya keluar menyusul kemudian
barulah batu besar itu dijatuhkan pada tubuhnya. Beliau tidak merasakan sakit
karena jasadnya sudah tidak mempunyai nyawa.
Demikianlah akhir dari penderitaan Asiyah binti Muzahim yang disiksa
oleh sang suami, Fir’aun. Allah mencatat Asiyah sebagai perempuan shalihah yang
menjadi perempuan ahli surga. Semoga kita semua dapat menjadikan Siti Asiyah
sebagai teladan hidup untuk meraih kemuliaan dari Allah SWT.
Karunia Allah yang paling lengkap adalah kehidupan yang didasarkan pada
ilmu pengetahuan (Ali bin Abi Thalib). Wallahu A’lam Bish-Shawab. Wassalamu’alaikum
Wr.Wb.
Sumber : Islami, Khazanah Republika, Muslimah, Kalam Sindonews,
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih