Kisah Bilal Bin Rabbah (Adzan yang tak pernah usai)#kacamtaislam
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bilal bin Rabah, adalah seorang budak berkulit hitam dari Habsyah yang
masuk Islam ketika masih diperbudak. Setelah majikannya mengetahui bahwa Bilal
masuk Islam, maka Bilal disiksa terus menerus setiap harinya, guna
mengembalikan keyakinannya agar tidak memeluk Islam. Tetapi Bilal tidak mau
kembali kepada kekafirannya. Pada akhirnya Bilal dimerdekakan oleh Abu Bakar,
dan menjadi salah seorang sahabat nabi.
Ketika hukum syariat adzan diperintahkan oleh Allah SWT, maka orang
yang pertama kali diminta oleh Rasulullah (SAW) untuk mengumandangkan adzan
adalah Bilal bin Rabah, ia dipilih karena suaranya sangat merdu dan lantang. Ia
dikenal sebagai muazin pertama dalam Islam.
Ketika Rasulullah (SAW) wafat, seluruh kaum muslimin berduka cita. Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu anhu terduduk karena beratnya kabar tersebut, ‘Usman
bin Affan radhiyallahu anhu seperti anak kecil menggerakkan tangannya ke kanan
dan kekiri.
Adapun Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu berkata: ”Jika ada
seseorang yang mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah
meninggal, akan kupenggal kepalanya dengan pedangku, beliau hanya pergi untuk
menemui Rabb-Nya sebagaimana Musa alaihis salam pergi untuk menemui Rabb-Nya.”
Orang yg paling tegar adalah Abu Bakar radhiyallahu anhu, dia masuk
kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, memeluk beliau dan berkata: ”Wahai
sahabatku, wahai kekasihku, wahai bapakku.” Kemudian dia mencium Nabi
Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata : ”engkau mulia dalam hidup dan dalam
keadaan mati.”
Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung
yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih,
burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin
enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam
menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di
salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa
bisa menahan tangisnya. Beliau adalah Bilal bin Rabah. Salah satu sahabat
Rasulullah (SAW).
Setelah Rasulullah meninggal dunia, Bilal menghadap ke Khalifah Abu
Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, “Wahai Khalifah, tolong izinkan aku untuk tidak
azan lagi”
Sayyidina Abu Bakar pun menjawab, “Wahai Bilal, aku tidak akan menurunkan
orang yang pernah diangkat oleh Rasulullah (SAW).”
Kemudian Bilal mengulangi permintaannya kembali, lalu dijawab kembali
oleh Sayyidina Abu Bakar, “Tidak, kecuali engkau memiliki alasan.”
Tiba-tiba Sayyidina Bilal melihat ke menara, lalu melihat ke kubur
Rasulullah (SAW). Kemudian Sayyidina Bilal berkata, “Wahai Abu Bakar,
kebiasaanku dulu diwaktu Nabi Muhammad (SAW) masih hidup adalah sebelum waktu
sholat aku membangunkan Nabi Muhammad (SAW). Aku datang ke tempat Nabi Muhammad
(SAW) dan berkata, “Ya Rasulullah, waktu sholat...”, dan kadang Nabi Muhammad (SAW)
yang datang ke tempatku lalu berkata, “Bilal, waktu sholat...”, kemudian
setelah itu, aku bersama Nabi Muhammad (SAW) mendekat ke menara dan aku naik,
Nabi Muhammad (SAW) melihatku, lalu aku menghadap ke kiblat, sebelum adzan aku
selalu menoleh ke Nabi Muhammad (SAW) yang ada ditempat itu, kemudian aku
melantunkan adzan, dan saat turun aku disambut oleh Rasulullah (SAW), dan itu
aku lakukan sehari 5 kali, dan berulang-ulang sehingga sungguh suasana keadaan
itu mengingatkan aku kepada Rasulullah (SAW). Hingga saat ini aku tidak mampu
untuk melakukan adzan lagi, Wahai Abu Bakar.”
Akhirnya sayyidina Abu Bakar pun menitikkan air mata dan mengizinkan
Bilal untuk tidak mengumandangkan adzan lagi.
Kemudian sayyidina Bilal pergi ke Syam dalam waktu yang cukup lama. Cerita
ini diriwayatkan oleh Ibn Asyakir. Tiba-tiba suatu malam Sayyidina Bilal bin
Rabah mimpi bertemu Rasulullah (SAW). Sayyidina Bilal ditegur oleh Rasulullah
(SAW) dalam mimpinya, “Wahai Bilal, alangkah kerasnya hatimu. Lama kau tidak
kunjung kepadaku, Wahai Bilal.” Sayyidina Bilal pun langsung terbangun dan
menangis dengan tangisan yang sangat sehingga keluarganya pun ketakutan karena
Sayyidina Bilal menangis dengan luar biasa.
Sayyidina Bilal hanya bisa berkata, “Sungguh saat ini aku merasakan
rasa takut yang sangat, dan aku tidak pernah takut seperti saat ini. Aku
bertemu Rasulullah (SAW) dan beliau menegurku dengan berkata, “Wahai Bilal,
alangkah kerasnya hatimu. Mana kerinduanmu kepadaku? Lama kau tak kunjung
kepadaku.” Aku takut ditinggal oleh Rasulullah (SAW)”.
Akhirnya para keluarga menyarankan Sayyidina Bilal agar pergi berziarah
ke makam Rasulullah (SAW). Kemudian Sayyidina Bilal pergi ke Madinah.
Perjalanan Sayyidina Bilal yang tidak pernah kenal lelah dan tidak mau
beristirahat karena yang ada dalam hati Sayyidina Bilal adalah segera sampai di
Madinah. Saat Sayyidina Bilal sudah memasuki Kota Madinah, terlihatlah
bukit-bukit, dan disaat itu air mata mulai bercucuran. Bukit itu dalah bukit
yang pernah disaksikannya bersama Rasulullah (SAW). Semakin memasuki Kota
Madinah, tangis Sayyidina Bilal semakin keras. Kenangan indah bersama
Rasulullah benar-benar membekas di hati Sayyidina Bilal bin Rabah.
Berjalanlah Sayyidina Bilal menuju kubur Rasulullah (SAW). Dia terduduk
dan mengucapkan salam dengan suara yang lirih dan parau.
“Assalamu’alaika yaa Rasulullah”
“Assalamualaika yaa Habiballah”
“Assalamu’alaika yaa Nabiallah”
Tiba-tiba ada yang menepuk kepala Sayyidina Bilal. Diapun menoleh dan
berdiri karena mendapati Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin
Khattab. Sayyidina Bilal pun menceritakan mimpinya kepada kedua khalifah tersebut.
Lalu Sayyidina Abu Bakar menghibur, “Wahai Bilal, ketahuilah, air mata
yang pernah menangis karena rindu kepada Rasulullah (SAW) tidak akan ditinggal
oleh Rasulullah (SAW). Dan engkau adalah orang yang tidak pernah ditinggal
Rasulullah (SAW).”
Maka bergembiralah Sayyidina Bilal bin Rabah dan merangkul Sayyidina
Abu Bakar Ash-Shiddiq dan redalah air mata itu.
Tiba-tiba Sayyidina Abu Bakar meminta Sayyidina Bilal bin Rabah untuk
mengumandangkan adzan. Mendapati tawaran itu dari Sayyidina Abu Bakar, ia pun
melihat ke arah menara lalu melihat ke kubur Rasulullah (SAW). Air mata yang
sudah berhenti itu berderai kembali.
Kemudian Sayyidina Bilal berkata, “Tidak, wahai Abu Bakar. Tidak, wahai
Umar. Aku belum mampu untuk adzan”
Tidak lama kemudian datang 2 anak kecil membonceng tangan kanan dan
tangan kiri Sayyidina Bilal bin Rabah, dan berkata, “Hai, tukang adzan kakekku”
Bilal pun terkejut dan menoleh, ternyata di kanannya adalah Sayyidina
Hasan, dan di kirinya adalah Sayyidina Husein. Sayyidina Bilal benar-benar
terkejut dan mengangkat tangannya, “Ya Allah, terima kasih. Aku rindu kekasih-Mu
Nabi Muhammad (SAW), dan telah Engkau kirimkan kepadaku orang yang sangat
dikasihi oleh Rasulullah (SAW)”.
Lalu Sayyidina Bilal melihat wajah Sayyidina Hasan kemudian melihat
kaki Sayyidina Husein. Kemudian berpindah kepada wajah Sayyidina Hasan, menoleh
lagi ke kaki Sayyidina Husein. Karena ketahuilah, wajah Sayyidina Hasan sangat
mirip dengan Rasulullah (SAW), dan kaki Sayyidina Husein sangat mirip dengan
kaki Rasulullah (SAW).
Dipeluklah dua anak kecil ini oleh Sayyidina Bilal dengan air mata yang
mengalir dan berkata, “Ya Rasulullah (SAW), sungguh bau keringatmu aku
temukan di cucumu, Ya Rasulullah.”
Kemudian Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein meminta Sayyidina Bilal
untuk mengumandangkan adzan. Sayyidina Bilal pun bingung. Dia menoleh ke wajah
Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar.
Lalu Sayyidina Abu Bakar berkata, “Lakukan...!!”
Kemudian Sayyidina Bilal menoleh dan berkata, “Wahai Hasan dan Husein,
sebelum engkau meminta, Khalifah dan wakilnya memintaku untuk adzan, tapi aku
tolak. Tapi karena yang meminta saat ini adalah cucu Rasulullah, aku tidak
berani menolaknya. Karen aku takut jika aku menolak permintaanmu saat ini, aku
takut nanti ditolak untuk adzan di depan Rasulullah di surga nanti.”
Hingga ditentukanlah waktu adzan Sayyidina Bilal, dalam riwayat, waktu
yang ditentukan adalah Subuh. Banyak orang yang sudah menunggu. Disaat sudah
tiba waktu sholat, ada orang berkulit legam berdiri di tempat yang biasanya
Sayyidina Bilal berdiri. Suasana itu mengingatkan pada Rasulullah (SAW)
sehingga mulai berjatuhan air mata dari orang yang hadir di tempat itu. Cara
berjalan Sayyidina Bilal pun tidak berubah, masih sama seperti dulu. Maka
semakin kuat kenangan mereka kepada Rasulullah (SAW) sehingga tangisan
orang-orang yang ada disana semakin keras.
Sayyidina Bilal berjalan memecah barisan kemudian menuju ke menara. Dan
disaat naik menara, tangis mereka semakin kuat. Bahwasannya seperti inilah yang
dulu pernah disaksikannya bersama Rasulullah (SAW). Dengan berderai air mata,
Sayyidina Bilal lalu melihat ke tempat biasanya Rasulullah ada di tempat itu.
Sayyidina Bilal hanya bisa menutup mata dan menghapus air matanya, karena
disitulah dulu dia pernah melihat Rasulullah (SAW).
Semua yang ada disana pun menangis kuat. Hingga disebutkan tidak ada
tangis di Madinah yang lebih dahsyat melebihi dahsyatnya tangis dari pada saat
itu.
Sayyidina Bilal pun memulai adzannya. Saat lafadz “Allahu Akbar”
dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap. Segala kegiatan
terhenti. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada
sosok nan agung, suara yang begitu dirindukan itu, telah kembali.
Sambil menjawab adzan Sayyidina Bilal, orang-orang menangis kuat,
bahkan ada diantara mereka yang pingsan. Mengapa mereka sampai seperti itu?
Karena semua yang terjadi disitu mengingatkan kenangannya kepada Rasulullah (SAW).
Sehingga orang-orang yang ada diluar masjid pun, ibu-ibu yang belum
sempat datang mendengar suara adzan Sayyidina Bilal bin Rabah bergegas menuju
masjid lalu berkata, “Apakah Rasulullah dibangkitkan lagi?” Karena dulu disaat
mendengar suara Sayyidina Bilal bin Rabah, pasti ada Rasulullah (SAW). Sehingga
saat mendengar suara adzan Sayyidina Bilal yang sudah lama hilang, seolah-olah
Rasulullah (SAW) hadir kembali.
Ketika Sayyidina Bilal mengumandangkan lafadz “Asyhadu an laa ilaaha
illallah”, seluruh warga Madinah berlarian ke arah suara itu, sambil berteriak
histeris. Bahkan para gadis dalam pingitan pun menghambur keluar.
Dan sewaktu Sayyidina Bilal hendak mengumandangkan “Asyhadu anna…,” hilanglah
suara Sayyidina Bilal saat mengucapkan kata “Muhammad”. Madinah pecah oleh
tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Bilal sendiri yang tengah adzan pun
tercekat, dia tak sanggup melanjutkan adzannya dengan lantunan “Muhammadan
Rasulullah”.
Hari itu, Madinah berluapan rasa rindu nan syahdu. Tak ada pribadi agung
yang begitu dicintai seperti Nabi Muhammad (SAW). Lantunan adzan Bilal bin
Rabah-lah yang memulainya, yang memantiknya menjadi nyala cahaya. Itulah adzan
terakhir dalam usia senja sang muadzin pertama dunia. Adzan yang tak pernah dia
bisa tuntaskan karena terlalu sedih.
Semoga Allah SWT benar-benar menjadikan kita orang-orang yang dicintai
Rasulullah (SAW), sehingga kita bisa berkumpul dengan orang-orang yang dicintai Rasulullah (SAW).
Karunia Allah yang paling lengkap adalah kehidupan yang didasarkan pada
ilmu pengetahuan (Ali bin Abi Thalib). Wallahu a’lam bish-shawabi.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Sumber : Wikipedia, KisahIslam, Ceramah Yahya Zainul Ma'arif (Buya
Yahya)
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih