kisah sumayyah ummu ammar bin yasir syuhada pertama dalam islam#kacamataislam

 


 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Sumayyah binti Khayyat adalah hamba sahaya dari Abu Hudzaifah bin Mughirah. Beliau dinikahi oleh Yasir, seorang pendatang yang kemudian menetap di Makkah. Mereka dikaruniai anak yang bernama ‘Ammar.

 

Ketika ‘Ammar menjelang dewasa, dia mendengar agama baru yang didakwahkan oleh Nabi Muhammad SAW. Berpikirlah Ammar bin Yasir sebagaimana yang dipikirkan oleh penduduk Mekkah, sehingga kesungguhan beliau dalam berpikir dan lurusnya fitrah beliau, menggiringnya untuk memeluk dinul Islam.

 

‘Ammar kembali ke rumah dan menemui kedua orang tuanya dalam keadaan merasakan lezatnya iman yang telah terpatri dalam jiwanya. Beliau menceritakan kejadian yang beliau alami hingga pertemuannya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian menawarkan kepada keduanya untuk mengikuti dakwah yang baru tersebut.

 

Sumayyah bersama suaminya Yassir, mengenal Islam dari ‘Ammar yang diam-diam mendengarkan dakwah nabi. Mereka bertiga mendapat hidayah ketika Islam masih dianut segelintir orang. Jumlah pengikut Rasulullah hanya bisa dihitung jari. Saat itu, yakni di awal-awal Islam, pengikut Rasul yang berasal dari kaum Quraisy terlindungi dari siksaan, tak ada yang berani mengusik mereka. Namun mereka yang berstatus budak mendapat siksaan yang sangat berat. Sebut saja ‘Ammar, Yasir, Sumayyah, Shuhaib, Bilal, dan Al-Miqdad.

 

Ada yang disiksa dengan diberi pakaian dari besi yang berat lalu dibiarkan terbakar panasnya matahari di padang pasir. Ada yang ditahan kaumnya yang musyrik lalu disiksa bertubi-tubi. Siksaan demi siksaan mereka dapatkan setiap hari karena telah mengikuti ajaran sang nabi. Namun meski didera sakit yang luar biasa, tak ada satu pun dari mereka yang goyah imannya, tak ada satu pun dari mereka yang ingin kembali menyembah berhala.

 

Bani Makhzum mengetahui akan hal itu, karena ‘Ammar dan keluarganya tidak memungkiri bahwa mereka telah masuk Islam, bahkan mereka mengumumkan keislamannya dengan kuat sehingga orang-orang kafir tidak menanggapinya melainkan dengan pertentangan dan permusuhan.

 

Bani Makhzum segera menangkap keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan bermacam-macam siksaan agar mereka keluar dari islam, memaksa dengan cara mengeluarkan mereka ke padang pasir tatkala keadaannya sangat panas dan menyengat. Mereka membuang Sumayyah ke sebuah tempat dan menaburinya dengan pasir yang sangat panas, kemudian meletakkan di atas dadanya sebongkah batu yang berat. Akan tetapi, tiada terdengar rintihan atau pun ratapan, melainkan ucapan, “Ahad … Ahad ….” Sumayyah binti Khayyat ulang-ulang kata tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Yasir, Ammar, dan Bilal.

 

Mereka terus saja disiksa oleh Bani Makhzum. Sepanjang waktu mereka mendapat siksaan demi siksaan, celaan demi celaan, cambukan demi cambukan. Namun Sumayyah bersama suami dan anaknya terus saja bersabar.

 

Suatu hari Rasulullah berjalan bersama Utsman bin Affan. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam pun melewati keluarga Sumayyah. Rasulullah merasa sangat berduka melihat kondisi keluarga Yasir. Melihat Rasulullah, Yasir serta merta mengadukan kondisi penyiksaan Bani Makhzum yang diterima keluarganya. “Wahai Rasulullah, demikian keadaannya sepanjang waktu.”

 

Rasulullah pun bersabda, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga.” Sumayyah dan keluarganya dijanjikan langsung dari lisan utusan Allah bahwa akan mendapat surga jikalau bersabar mempertahankan keimanan. Keluarga Yasir pun kembali bersemangat mendengar janji surga untuk mereka.

 

Keluarga Sumayyah pun terus bersabar meski siksaan yang diterima semakin hari semakin berat. Mereka lemah tak berdaya. Hingga siksaan itu pun mencapai puncaknya. Di suatu malam, tiba-tiba Abu Jahl mendatangi keluarga Yasir. Ia menjumpai Sumayyah lalu segeralah lisan sang musuh Allah melontarkan penghinaan yang sangat kotor pada Sumayyah, muslimah hamba Allah yang shalihah.

 

Sumayyah hanya terdiam dengan sabar. Emosi Abu Jahl makin memuncak. Diambilnya sebuah tombak lalu ditancapkanlah tombak itu ke arah Sumayyah. Sadisnya, Abu Jahl menancapkan tombak tajam nan runcing itu ke kemaluan Sumayyah hingga darah Sumayyah keluar memancar dan ia merasakan sakit yang teramat dahsyat. Sumayyah pun meninggal dunia menghadap maghfirah-Nya.

Sumayyah menjadi muslimah pertama yang syahid di dalam Islam. Ialah wanita pertama yang meninggal karena membela agamanya. Ialah sang syahidah pertama yang meraih janji surga.

 

Beliau gugur setelah memberikan contoh baik dan mulia bagi kita dalam hal keberanian dan keimanan, beliau telah mengerahkan segala yang beliau miliki dan menganggap remeh kematian dalam rangka memperjuangkan imannya. Beliau telah mengorbankan nyawanya yang mahal, dalam rangka meraih keridhaan Rabbnya. Mendermakan jiwa adalah puncak tertinggi dari kedermawanan.

 

Semoga kita bisa menjadikan Sumayyah binti Khayyath contoh agar kita semua dapat memperoleh kemuliaan dari Allah SWT di akhirat kelak.

 

Karunia Allah yang paling lengkap adalah kehidupan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan (Ali bin Abi Thalib). Wallahu a’lam bish-shawabi.

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

 

Sumber :

-          Mereka Adalah Para Shahabiyat (terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi, dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005, hlm. 169-171

-          Kisah Muslim

-          Muslimah Daily

-          Muslimah

 

 

 

Komentar

Postingan Populer