Malaikat Jibril Menyumpal Mulut Firaun dengan Lumpur Hitam

 

 



 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

 

Fir’aun adalah gelar bagi raja-raja Mesir kuno dari semua periode. Banyak yang beranggapan bahwa Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah karena mengejar Nabi Musa dan Bani Israil adalah Ramses II. Tapi ternyata, raja yang menentang Nabi Musa adalah Merneptah, yang merupakan anak tertua laki-laki Ramses II yang masih hidup, setelah dua belas kakak laki-lakinya meninggal sebelum masa pewarisan. Merneptah diangkat menjadi Firaun pada usia 50 tahun.

 

Ketika penduduk Mesir semakin fanatik dengan kekufuran mereka, permusuhan dan pengingkaran mereka terhadap Nabi Musa AS kian mengobarkan hasrat untuk membunuh dan menindas utusan Allah dan orang-orang yang mengikutinya. Mereka mengikuti raja mereka yang zhalim, Firaun. Saat itulah Allah tegakkan hujjah-Nya membinasakan mereka semua. Mereka telah menyaksikan tanda-tanda dan kejadian-kejadian yang di luar nalar. Kejadian yang keluar dari proses alamiahnya. Dan membuat akal terheran-heran. Tapi mereka tetap tak mau berhenti, tak mau memahami, dan tak mau kembali kepada Allah Azza Wa Jalla.

 

Dengan kekuasaan dan kesewenang-wenangannya, Firaun berhasil menekan rakyatnya untuk mengingkari kebenaran yang dibawa Nabi Musa.

 

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Firaun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (QS:Yunus | Ayat: 83).

 

Puncaknya, Firaun mengklaim dirinya sebagai Tuhan yang berhak disembah. Ketika kezhaliman telah memuncak, saat itulah pertolongan Allah datang. Nabi Musa mengumpulkan para pengikutnya. Menasihati mereka, meneguhkan hati mereka, dan memberikan arahan kepada mereka.

 

Nabi Musa memerintahkan mereka agar bertawakal kepada Allah semata. Meminta tolong dan berharap kepada-Nya. Dan Allah SWT pun memberikan jalan keluar untuk mereka semua. Kemudian Nabi Musa memberikan kabar gembira dari Allah kepada kaumnya,

 

Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”.          (QS:Yunus | Ayat: 87).

 

Selama bertahun-tahun, Nabi Musa dan pengikutnya bersabar dan menghibur diri dengan keimanan kepada Allah dan tawakal. Mereka senantiasa memperbaiki hubungan dengan Allah. meminta tolong pada-Nya dengan shalat-shalat mereka. Di sisi lain, Firaun dan para pengikutnya semakin menentang dan memusuhi kebenaran.

 

Nabi Musa senantiasa berdoa kepada Allah SWT :

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih”. (QS:Yunus | Ayat: 88).

 

Ibnu Juraij mengatakan, “Firaun tetap hidup selama 40 tahun setelah Nabi Musa mengucapkan doa ini.” (Tafsir al-Quran al-Azhim oleh Imam Ibnu Kastir). Lihatlah Nabi Musa, selain bersabar terhadap kaumnya sendiri, betapa sabarnya beliau menghadapi kekejaman Firaun, berdakwah kepadanya, dan berdoa kepada Allah. Tak heran Allah SWT mendudukkan beliau sebagai seorang ulul azhmi.

 

Allah SWT berfirman :

“Sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS:Yunus | Ayat: 89).

 

Allah mengizinkan Nabi Musa dan para pengikutnya untuk keluar dari Mesir menuju Syam.

 

Mengetahui kepergian Musa, kemarahan Firaun semakin memuncak. Ia siapkan pasukannya untuk mengerjar Nabi Musa dan pengikutnya. Kejadian ini diabadikan Allah SWT dalam Alquran.

“Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena sesungguhnya kamu sekalian akan disusuli”. Kemudian Firaun mengirimkan orang yang mengumpulkan (tentaranya) ke kota-kota. (Firaun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar golongan yang selalu berjaga-jaga”. Maka Kami keluarkan Firaun dan kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan kedudukan yang mulia, demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil. Maka Firaun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.” (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 52-60).

 

Pada saat Firaun dan pasukannya berhasil menyusul Nabi Musa dan pengikutnya, pengikut Nabi Musa berkata,

 

Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 61).

 

Mereka mengatakan demikian karena melihat di hadapan mereka jalan tertutup oleh lautan. Mereka mengadu kepada Nabi Musa. Kemudian beliau menjawab,

 

Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 62).

 

Nabi Musa mengucapkan kalimat kuat dengan makna yang jelas. Menunjukkan kedalaman ilmu dan keyakinan terhadap rahmat Allah. Perkataan seorang leader yang membuat tenang rakyatnya di saat menghadapi himpitan masalah. Keadaan saat itu benar-benar genting. Tidak ada jalan yang bisa dilewati. Tidak ada orang yang bisa dimintai tolong. Dan Firaun adalah kejam yang tak mungkin memberi maaf. Sementara waktu terus membuat jarak Firaun kian mendekat. Dalam keadaan demikian, Nabi Musa tetap tenang dan yakin Allah akan menolongnya. Sikap ini hendaknya kita teladani sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT. Turunlah wahyu kepada Nabi Musa,

 

‘Lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.’ (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 63).

 

Melihat laut terbelah, Nabi Musa dan pengikutnya bersegera melintasi jalan terbelah itu. Setelah melintasinya, dan pengikutnya yang paling akhir melintas telah keluar dari laut, barulah barisan awal pasukan Firaun memasuki laut. Musa ingin segera memukul laut itu agar ia kembali ke keadaannya semula. Sehingga Firaun dan pasukannya tidak bisa lewat. Namun Allah SWT memerintahkan,

 

Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan.” (QS:Ad-Dukhaan | Ayat: 24).

 

Melihat tanda kebesaran Allah dan mukjizat Musa dengan terbelahnya laut, Firaun sadar itu adalah kekuasaan Allah SWT. Bukan sihirnya Musa. Akan tetapi ia membawa mati sifat sombongnya, dalam keadaan demikian ia tetap mengatakan, “Lihatlah! Bagaimana laut menjadi surut, tunduk kepadaku. Aku akan menangkap dua orang hambaku (Musa dan Harun) yang telah memberontak kepadaku”.

 

Firaun dan pasukannya bergegas masuk, melintasi belahan laut yang akan membinasakan mereka. saat mereka semua telah masuk ke dalam laut, Allah SWT memerintahkan Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya. Musa pun melakukan perintah Rabbnya. Laut yang terbelah itu kembali seperti semula. Allah SWT berfirman,

 

Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 65-67).

 

Tidak ada seorang pun dari kalangan orang-orang beriman tenggelam. Dan tidak satu pun dari Firaun dan pengikutnya yang bisa selamat.

 

Setelah benar-benar sadar dan yakin akan tenggelam Firaun mengatakan:

 

Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Firaun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.” (QS:Yunus | Ayat: 90).

 

Namun di saat yang bersamaan, Jibril menyumpal mulut Fir’aun dengan ‘Halul Bahri’; lumpur hitam yang ada di dasar laut.

 

Jibril berkata, “Wahai Muhammad! Andai saja kau melihatku saat mengambil lumpur hitam lautan lalu aku sumpalkan ke mulutnya, karena khawatir rahmat menghampirinya.” (HR At-Tirmidzi 3320, 3321).

 

Dalam riwayat lainnya Rasulullah menyebutkan bahwa Jibril menyumpalkan tanah ke mulut Fir’aun karena khawatir mengucapkan “La ilaha illallah,” sehingga Allah akan merahmatinya, atau khawatir Allah akan merahmatinya dan diterima tobatnya.

 

Kenapa Malaikat Jibril berlaku hingga demikian?

Dalam Kisah-kisah Nubuat dari Nabi karya Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar, Malaikat Jibril melakukan hal tersebut dikarenakan ia sangat benci terhadap manusia lalim yang sangat keras dalam kekafiran, kerusakan, memerangi Islam dan menyiksa orang-orang mukmin.

 

Barangkali ada yang penasaran dan bertanya,”Apa ruginya bagi Malaikat Jibril jika Allah merahmati dan mengampuni Fir’aun?”

 

Jawabannya dikarenakan terkadang kebencian seorang hamba terhadap orang zalim mendorongnya untuk berdoa kepada Allah agar tobat mereka tidak diterima dan mereka tidak dimasukkan ke dalam rahmat-Nya. Hal yang sama yang juga dilakukan oleh Nabi Musa.

 

Nabi Musa mendoakan keburukan kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya agar Allah menutup hati mereka sehingga mereka tidak beriman sampai melihat siksaan yang pedih.

 

Allah telah menetapkan hukumnya. Dan membinasakan orang-orang yang berbuat zhalim.

 

 Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS:Yunus | Ayat: 92).

 

Berlalulah kejadian itu. Namun pelajarannya tidak pernah hilang sepanjang zaman.

 

Semoga kisah ini dapat membuat kita terus percaya akan kebesaran Allah Azza Wa Jalla dan terus beserah diri kepadaNya sehingga dijadikannya kita sebagai penghuni di surganya Allah SWT.

 

Karunia Allah yang paling lengkap adalah kehidupan yang didasarkan pada ilmu pengetahuan (Ali bin Abi Thalib). Wallahu a’lam bish-shawabi.

 

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

Sumber : Kisah Muslim, Republika, Islampos

 

 

 

Komentar

Postingan Populer