Sumber :
-
Muslimah
-
KisahMuslimku
-
Kompasiana
-
Mereka Adalah Para Shahabiyat
(terjemah), karya Mahmud Mahdi Al-Istanbuli, Musthafa Abu An-Nashr Asy-Syalabi,
dan Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, penerbit At-Tibyan, Solo, 2005
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pada zaman Jahiliyah, ada seorang wanita bernama Hindun binti ‘Utbah,
yaitu istri dari Abu Sufyan bin Harb, seorang perempuan yang sangat berpengaruh
di Mekkah. Beliau adalah wanita yang fasih bicaranya, pemberani, kuat, berjiwa
besar, pemikir, penyair, dan bijak.
Putra beliau, bernama Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu,
bercerita tentang beliau, “Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa
Jahiliyah. Ketika beliau masuk Islam, beliau menjadi seorang wanita yang baik
lagi mulia.”
Ketika terjadi perang Badar Al-Kubra, ayah Hindun, pamannya yang
bernama Syaibah, dan juga saudaranya yang bernama Al-Walid terbunuh. Hal ini
menyebabkan tumbuhnya rasa dendam yang membara di hati Hindun. Sehingga ia
bernadzar akan mengunyah jantung orang itu jika ia dapat membunuhnya.
Ketika perang Uhud, Hindun binti Utbah memainkan peranan sebagai juru perang yang
handal. Beliau berangkat bersama kaum musyrikin Quraisy dan ketika itu pemimpin
mereka adalah suaminya yakni Abu Sufyan. Hindun mengobarkan semangat perang
kepada pasukan Quraisy bersama para wanita musyrikin lainnya sambil memukul
rebana dan bersyair,
Kami
adalah wanita-wanita jalanan
Yang
berjalan membawa bantal yang empuk
Jika
kalian maju kami peluk
Jika
kalian lari akan kami cerai
Dia juga mengulang-ulang syair,
Wahai
Bani ‘Abdi Dar
Wahai
para pejuang
Pukullah
dengan segala senjata yang tajam
Sebelum berangkat perang Uhud, Hindun memerintahkan budaknya yakni
Al-Wahsyi bin Harb untuk membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutholib karena
ingin membalaskan dendamnya atas kematian ayah dan pamannya. Jika budaknya
berhasil, Hindun menjanjikan kemerdekaan baginya. Api permusuhan senantiasa
berkobar di dadanya sehingga dia berkata kepada budaknya, “Wahai Abu Dasmah,
obatilah aku! Sembuhkanlah luka hatiku!”
Dalam perang Uhud, Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutholib bertugas membawa
bendera perang. Sementara Wahsyi terus menerus mengintai Sayyidina Hamzah.
Beliau berperang sambil membawa pedang dan bendera hingga puluhan anak panah menancap
di tubuhnya. Wahsyi pun mendapat kesempatan untuk melemparkan tombaknya yang
tajam dan langsung menembus pinggang bagian bawah Sayyidina Hamzah bin Abdul
Mutholib. Beliau pun gugur dan menjadi sahid karena membela Islam dan setia
kepada Rasulullah SAW.
Setelah Al-Wahsyi berhasil membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Mutholib,
Hindun segera menghampirinya dan memotong hidung dan kedua telinganya. Kemudian
dia merobek dada Hamzah dan mengambil jantungnya lalu mengunyahnya. Hanya saja
dia tak kuasa untuk menelannya sehingga dia meludahnya kembali. Lalu dia naik
ke atas bukit dengan perasaan puas dan berteriak dengan suara yang lantang,
Telah
kami balas kekalahan kami di perang Badar
Perang
demi perang terus berkobar
Tiada
bersabar diriku atas kematian ‘Utbah ayahku
Tidak
juga saudara dan pamanku
Telah
kuobati luka hatiku dan telah kutebus nadzarku
Wahsyi
telah hilangkan rasa dahaga di hatiku
Terima
kasihku kepada Wahsyi terhadap umurku
Hingga
terkelupas dagingku di dalam kuburku
Hindun juga berkata,
Telah
terobati dendamku terhadap Hamzah di perang Uhud
Hingga
kuambil jantungnya dengan merobek perutnya
Sirna
sudah rasa sakit di hati
Dari
kegundahan yang tiada terperi
Usai perang, Rasulullah SAW melihat satu persatu sahabat yang gugur di
medang perang. Ketika menemukan jasad Sayyidina Hamzah Bin Abdul Mutholib,
tiba-tiba Rasulullah SAW meneteskan air matanya.
Rasulullah SAW melihat dengan mata kepalanya, ada puluhan panah yang
menancap di tubuh pamannya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, Rasulullah SAW
melihat dada sang paman terdapat lubang menganga. Rupanya, robekan dada itu
bukan karena perang, tetapi ada yang sengaja merusaknya. Dan ternyata, jantung
Sang Paman sudah tidak ada.
Saat itu Rasulullah SAW benar-benar marah kepada orang yang telah
memperlakukan pamannya, dan berjanji akan membalas dengan balasan yang sepadan.
Sampai Allah SWT berfirman "Dan jika kamu memberikan balasan, maka
balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan
tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang
yang sabar." (QS An-Nahl: 126)
Tatkala terjadi peristiwa dimana Nabi Muhammad (SAW) beserta 10.000
pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah
secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, sekaligus menghancurkan
berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah yang disebut Fathu Makkah,
suaminya, Abu Sufyan bin Harb kembali bersama Rasulullah SAW sebagai seorang
muslim dan ia berteriak lantang, “Wahai kafir Quraisy, ketahuilah sesungguhnya
aku telah masuk Islam. Maka masuk Islamlah kalian! Sungguh Muhammad telah
datang kepada kalian dengan pasukan yang tidak sanggup kalian hadapi.
Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia selamat.”
Lalu berdirilah Hindun dan memegang jambang suaminya seraya berkata,
“Seburuk-buruk pemimpin suatu kaum adalah engkau. Wahai penduduk Makkah,
berperanglah kalian! Alangkah buruknya pemimpin kaum ini.”
Abu Sufyan menimpali, “Celaka kalian! Janganlah kalian terperdaya
dengan ocehan wanita ini. Sungguh Muhammad telah datang dengan membawa kekuatan
yang tidak mungkin kalian hadapi. Barangsiapa masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia
aman.”
Mereka berkata, “Semoga Allah membinasakanmu. Mana cukup rumahmu untuk
menampung kami semua?” Kemudian Abu Sufyan menjawab, “Barangsiapa menutup pintu
rumahnya, maka ia aman. Dan barangsiapa masuk masjid maka ia aman.” Lalu ketika
itu orang-orang berpencar. Ada yang masuk ke dalam rumah dan ada pula yang
masuk ke dalam masjid.
Pada hari kedua, setelah Fathu Makkah, Hindun berkata kepada suaminya,
Abu Sufyan, “Aku ingin mengikuti Muhammad. Bawalah aku untuk menghadapnya.”
Abu Sufyan heran, “Sungguh aku kemarin melihat engkau sangat benci
dengan perkataan tersebut?”
Hindun menjawab, “Demi Allah, aku belum pernah melihat Allah disembah
dengan sebenar-benarnya di dalam masjid sebagaimana yang aku lihat kemarin
malam. Demi Allah, kemarin malam aku melihat orang-orang tidaklah melakukan
sesuatu di masjid melainkan mereka shalat dengan berdiri, rukuk, dan sujud.”
Abu Sufyan berkata kepada istrinya, “Sesungguhnya engkau telah banyak
berbuat salah. Maka pergilah bersama seorang laki-laki dari kaummu.” Akhirnya,
Hindun pergi menemui ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu kemudian keduanya
menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu para wanita juga
sedang bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Setelah ia meminta izin dan diizinkan masuk, maka Hindun masuk dengan
menggunakan cadar lantaran takut atas apa yang telah ia perbuat terhadap
Hamzah. Dia khawatir kalau-kalau Rasulullah akan membalas perbuatannya.
Hindun berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah
memenangkan agama yang telah dipilih-Nya sehingga bermanfaat bagiku. Semoga
Allah merahmatimu wahai Muhammad. Sesungguhnya aku adalah wanita yang telah
beriman kepada Allah dan membenarkan Rasul-Nya.” Setelah itu, Hindun membuka
cadarnya seraya berkata, “Aku adalah Hindun binti ‘Utbah.”
Rasulullah SAW menyambutnya, “Selamat datang untukmu.”
Hindun berkata, “Demi Allah, dahulu tiada seorang pun di muka bumi ini
yang paling aku sukai untuk mendapatkan kehinaan melainkan engkau. Akan tetapi
sekarang, tiada kaum pun di muka bumi ini yang paling aku sukai untuk
mendapatkan kemuliaan melainkan kaummu.”
Nabi pun bersabda, “Dan lebih dari itu.” Kemudian beliau membacakan
Al-Qur’an kepada para wanita yang hadir dan membai’at mereka. Hindun berkata di
tengah-tengah mereka, “Wahai Rasulullah, haruskah kami menjabat tanganmu?”
Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku
tidak berjabat tangan dengan wanita. Dan bahwasanya perkataanku kepada seratus
wanita sama sebagaimana perkataanku kepada seorang wanita.”
Selanjutnya, Rasulullah bertanya, “Apakah kalian bersedia membai’atku
untuk tidak menyekutukan Allah dengan suatu apa pun?”
Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya engkau telah meminta kepada
kami apa yang tidak engkau minta dari kaum laki-laki. Kami akan menerima dan
melaksanakannya.”
Kemudian Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mencuri.”
Hindun menimpali, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah
suami yang bakhil. Apakah boleh bagiku untuk mengambil makanannya tanpa
seizinnya?” Maka Rasulullah memberikan rukhshah baginya untuk mengambil kurma
basah dan tidak memberikan rukhshah untuk mengambil kurma kering.
Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah kalian berzina.”
Hindun menjawab, “Mungkinkah seorang wanita merdeka berzina?”
Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian.”
Hindun berkata, “Sungguh kami telah memelihara mereka sejak kecil.
Kemudian kalian telah membunuhnya di perang Badar tatkala mereka telah dewasa.
Maka engkau lebih tau akan hal itu begitu pula mereka (para sahabat).” Maka
ketika itu, ‘Umar bin Khattab tertawa mendengar pernyataan Hindun tersebut
hingga lama sekali.
Kemudian Rasulullah melanjutkan, “Dan janganlah berbuat dusta yang
diada-adakan antara tangan dan kaki kalian.”
Hindun menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya kedustaan itu amatlah
buruk.”
Nabi melanjutkan, “Dan janganlah kalian mendurhakaiku dalam urusan yang
baik.”
Hindun menyahut, “Tidaklah kami akan duduk di majelis ini jika hendak
mendurhakaimu dalam perkara yang ma’ruf.”
Begitulah sikap Hindun di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Dengan kepribadiannya yang kuat dan keimanannya yang tulus, ia
berdialog dan bertanya serta mengulang-ulangnya.
Tatkala Hindun pulang ke rumahnya, ia langsung menghampiri patung-patung
dan menghancurkannya dengan sebuah kapak yang besar hingga berkeping-keping
seraya berkata berulang-ulang, “Dahulu kami tertipu olehmu …”
Semakin hari semakin bertambahlah pengetahuan Hindun dalam masalah
keimanan sehingga membawa dirinya berjihad menyertai kamu muslimin. Beliau
bersama suaminya, Abu Sufyan, ikut serta dalam perang Yarmuk yang terkenal itu
hingga beliau mendapatkan luka yang serius. Ia menjadi seorang wanita ahli
ibadah, rajin shalat malam dan berpuasa. Ia sangat konsisten dengan status
barunya tersebut sampai tiba saat Rasulullah SAW wafat.
Hindun sangat terpukul, sebab ia merasa belum seberapa menghapus segala
keburukan yang ia lakukan terhadap beliau dan umat Islam.
la pernah berkata mengingat masa lalunya: “Aku pernah bermimpi berdiri
di bawah matahari dan di dekatku ada tempat berteduh namun aku tidak boleh
berlindung di bawahnya. Ketika aku telah masuk Islam, aku bermimpi seolah-olah
aku telah masuk dalam lindungannya. Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki
kita kepada Islam”. Dengan kata-kata inilah Hindun binti ‘Utbah menghiburkan
dirinya sampai akhir hayatnya di masa kekhalifahan Umar bin Khattab pada tahun
14 H.
Karunia Allah yang paling lengkap adalah kehidupan yang didasarkan pada
ilmu pengetahuan
(Ali bin Abi Thalib)
Wallahu a’lam bish-shawabi.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih